Kamis, 25 Mei 2017

Kalimat "aku kapan" menjadi sebuah tulisan


Begitu dengar org yg selama ini memiliki kasih sayang dengan sangat tulus telah pergi meninggalkan selama - lamanyaa... Hanya renungan malam hari yg diiringi suara bernada dgn ejaan saat itu berbunyi dan sejenak terlintas sebuah kalimat "aku kapan" tetapi tidak cukup kalimat itu bisa diakhiri dgn tanda titik karena sebuah kalimat cukup merasakan suatu saat yg akan pasti terjadi didalam kehidupan sebegitu luasnya. Lanjutan itulah waktu bakalan terjadi ntah pastinya yg tidak cukup jelas untuk dikeluarkan dari sebuah mulut yg kadang tak bisa dikontrol. Pertanyaan yg berat rasanya untuk mengeluarkan tapi sebenarnya sekedar ikhlas dan belajar dari itu semuanya yg menjadi kunci untuk melanjutkan kalimat yang tadinya terlintas sejenak. Sesimple itu kah, bukan meremehkan suatu ejaan hanya harapan dan mental  akan teruji kemana arah selanjutnya dari lanjutan tulisan konyol seorang pria ketidakjelasan apa maksud dari ini semua, keisengan sementara terkadang membuat semua ini tertawa. Kini aku kembali dengan topik tulisan dan suasana yg dulu pernah terpikirkan oleh waktu dan masa lalu. Akhirnya aku sudah sampai pada titik waktu pertanyaan itu sungguh menjadi realita dimana seorang yg sangat menyayangi kita pergi mendahului dengan waktu untuk kembali seakan punah bagaikan tertelan takdir. Saat itu hatiku mulai merasakan keikhlasan, kesabaran bahkan ketabahan untuk tetap tegar dalam kondisi sulit sekalipun agar hati ini terbuka. Aku bersyukur atas apa YangMahaKuasa lakukan terhadap kenyataan. Jiwa ini merasa banyak hal yg dapat kupelajari dan tersampaikan kepada jiwa, energi dan atmospher positif membara biar terus maju walaupun selangkah demi selangkah. Jiwaku tidak akan pernah melupakan dan jiwa ini akan selalu ingat pesan moral sehingga suatu kewajiban itu berjalan bersama semesta. Waktu telah berjalan dengan fakta aku senantiasa mengiringi sambil bercerita bersama alam kalau hidup ini memang harus maju sehingga aku lupa dikalimat mana  titik itu berhenti. Mata sebagai indera visual yg nyata kejadian - kejadian seperti tanda ataupun sinyal yg kuterima. Resah hati semakin menjadi ditambah otak lebih terpikir dari pada biasanya. Rasa peka ku mulai timbul terhadap hal disekitar keseharianku namun sulit bagiku untuk menuntaskannya karena sejatinya hakekat ku hanya sampai meraba - raba apa yg sedang terjadi. Ohhh Yang Maha Kuasa atas izin engkau hamba memohon restumu untuk melangkah demi bertindak dan lindungi hamba dari segala sesuatu yg membahayakan jiwa dan raga hamba sebagai ciptaanmu... kemudian pada saat itu mungkin kesombonganku yg tak kusadari sedikit demi sedikit mulai membara api. Aku merasa posisiku telah mencapai puncak, ternyata itu hanya puncak bayangan dimana prosesku dimulai dengan terpaan yg baru. Sebuah senjata yg sering kugunakan untuk menembak moment orang lain untuk kuceritakan, melalui melukis dengan cahayaku tiba - tiba hilang begitu saja aku tidak menyangka bahwa jiwa ini tetap akan berpengaruh terhadap pemikiran serta memiliki hubungan perasaan dengan hati. Aku sadar apa yg terjadi dalam diriku merupakan cerminan kesombonganku dalam bermimpi, hatiku kacau karena rasa bersyukurku sudah mulai hilang, jiwaku hampir lupa  bahwa perilaku disiplin itu adalah moment yg paling terbaik untuk kupotret. Tentu saja siapapun tidak akan mau mengalami peristiwa seperti itu. Boleh tidaknya aku menyampaikan isi doaku kedalam tulisan ini aku tidak perduli, yg kupelajari  dari seorang wanita tangguh adalah menulis merupakan tempat kita curhat yg paling abadi karena masa lalu tetap akan kembali tapi dengan masa depan yg lebih baik untuk kita dan orang - orang terdekat kita juga. Dikala fajar mulai muncul mataku terbuka sejenak untuk melihat dari sebuah gubuk kecilku yg penuh dengan ilmu sudah lama mataku tidak melihat semesta itu bangun. Sekalipun semesta itu bangun selalu memberikan kejutan - kejutan tak terduga, ternyata kejutan itu berupa kehilangan lagi hanya kali ini ranselku yg sudah bertahun - tahun menemaniku hilang begitu saja. Tulisan - tulisan di bangku kuliah, hasil - hasil memotretku selama dua tahun juga ikut lenyap dalam waktu seketika. Rasa kagetku tidak begitu memuncak sih justru malah aku semakin lebih berpikir kenapa hal itu masih terjadi kepadaku, apa yg salah dari sikap, perilaku, tutur kata ku. Tidak ada yg tau maksud dari ini semua kecuali Yang Maha Kuasa, apakah dengan aku mengeluh, bersedih, merenung itu semua bisa kembali???  Jawabannya IYA hanya kita yg tidak tau kapan waktunya kembali. Apakah semuanya akan tergantikan dengan yg indah ??? Jawabannya IYA hanya kita perlu bersabar saja. Orang sih bilang itu ujianmu dalam bekarya sekarang tindakan apa lagi yg harus kuperbuat agar ini dapat menjadi moment yg dapat kupotret.